Home > CLED > Klinik Hukum Valparaiso University School of Law

Klinik Hukum Valparaiso University School of Law

Pengantar

Klinik hukum VUSL (Valparaiso University School of Law) merupakan firma hukum bagi dosen dan mahasiswa, lembaga ini sudah berdiri sejak 40 tahun lalu untuk memberikan kesempatan yang unik kepada mahasiswa mengalami peristiwa di ruang peradilan sebelum menjadi advokat praktek. Selain itu lembaga ini juga diadakan untuk menyediakan jasa hukum gratis kepada anggota masyarakat yang kurang beruntung. Setiap tahun, klinik hukum melayani sekitar 700 kasus.

Klinik hukum ini diadakan dengan ijin khusus dari pengadilan tinggi Negara bagian Indiana. Mahasiswa bisa memilih enam bidang praktek yaitu hukum perdata, hukum pidana, hukum pajak, hukum kenakalan anak, mediasi, dan hukum olahraga.

Diharapkan dari keterlibatan mahasiswa maka dapat memperkuat kemampuan untuk mendukung penegakan hukum, membangun kepekaan untuk menolong orang lain, dan menambah pengalaman praktis dalam riwayat pekerjaan mahasiswa.

Program Klinik hukum sendiri memiliki enam klinik, yaitu klinik pidana, klinik perdata, klinik anak, klinik peradilan anak dan dewasa, klinik mediasi dan klinik hukum olah-raga. Mereka dijalankan oleh tujuh orang dosen pengacara yang masing-masing memiliki spesialisasi di bidang yang dibawahinya.

Klinik pidana.

Dalam klinik ini, mahasiswa akan melayani klien yang terkait dengan tindak pidana dan pelanggaran ringan, melakukan negosiasi dengan kantor kejaksaan setempat, mengevaluasi bukti, menilai kekuatan kasus dan mengurus kasus di pengadilan. Dosen pengacara pengawas di klinik ini adalah Dave Welter.

Klinik perdata.

Mahasiswa akan mewakili kliennya dalam kasus-kasus biasa seperti perceraian, adopsi, perwalian, dan pelanggaran konsumen. Klinik ini menyediakan pemahaman kepada mahasiswa tentang bagaimana dampak hukum terhadap kehidupan pribadi seseorang. Dosen pengacara pengawas di klinik ini adalah Marcia Gienapp.

Klinik masalah anak (juvenile klinik).

Klinik ini ditunjuk oleh pengadilan anak Lake County untuk mewakili anak-anak yang dilecehkan atau yang tidak diurus orang tuanya. Mahasiswa dapat secara cepat mempelajari bagaimana menangani kasus-kasus yang menyedihkan hati dalam karir profesionalnya. Dosen pengacara pengawas di klinik ini adalah Gail Tegarden.

Klinik peradilan anak (juvenile and adult justice clinic).

Dalam klinik ini, mahasiswa mewakili anak-anak dalam proses pemeriksaan peradilan anak dan dewasa di wilayah Porter County dan LaPorte county. Sifat kasusnya ada bermacam-macam, tetapi pada dasarnya terkait dengan hearing dari kedua pihak, pernyataan (pleas), persidangan dan banding. Dosen pengacara pengawas adalah Geneva Brown.

Klinik mediasi.

Mahasiswa di klinik ini dilibatkan dalam mediasi kasus-kasus kecil di pengadilan lokal untuk klaim-klaim kecil. Diharapkan ketrampilan negosiasi dan advokasi dalam mediasi akan terbentuk. Dosen pengacara pengawas adalah Barbara Schmidt.

Klinik hukum pajak.

Di klinik ini, mahasiswa membantu klien berpendapatan kecil dalam kasus menyangkut kontraversi pajak pendapatan Federal, baik pada aras administratif (dengan IRS) maupun dengan Pengadilan Pajak Amerika Serikat. Klinik hanya menyediakan pelayanan kepada orang yang sangat membutuhkan bantuan. Dosen pengacara pengawasnya adalah Paul Kohlhoff.

Klinik hukum olahraga.

Ini adalah klinik terbaru di jajaran klinik hukum VUSL, tetapi sekaligus merupakan klinik yang saat ini sering mempopulerkan nama VUSL, setelah salah satu kasus doping atlet nasional Amerika Serikat yang mereka wakili berhasil dimenangkan. Dosen pengacara pengawas adalah Michael Straubel.

Karena memiliki dampak yang menonjol saat ini, maka akan kami jelaskan secara khusus mengenai klinik hukum olahraga ini.

Klien yang dilayani oleh klinik hukum olahraga adalah setiap orang yang berada dalam lingkungan olahraga amatir (baik sebagai atlet, pelatih, pembina, atau fungsi lainnya) yang memiliki masalah hukum yang berkaitan dengan peran olahraga mereka. Klinik ini terbuka bagi klien dari berbagai arena, baik atlet olimpiade, perguruan tinggi, sekolah menengah, dan lainnya.

Pelayanan di klinik hukum olahraga disediakan tanpa fee. Sebagai konsekuensinya, klinik hanya membatasi diri pada mereka yang tidak mampu membayar biaya kuasa hukum.

Kasus-kasus yang umumnya ditangani adalah masalah-masalah seperti doping dan pengujian obat-obatan, ijin berkompetisi, dan hilangnya beasiswa (atlet berprestasi biasanya diberikan beasiswa untuk sekolah di universitas).

Penyediaan jasa hukum dilakukan oleh dosen pengacara (professor Michael Straubel) dan enam orang dosen lainnya, dibantu oleh sepuluh orang mahasiswa tahun ketiga yang memperoleh sertifikasi khusus dari pengadilan tinggi Indiana untuk melayani klien dibawah pengawasan professor Straubel.

Salah satu alumni tahun 2006 yang pernah aktif di klinik hukum olahraga ini, Stephen A Starks, pada bulan februari 2008 telah ditunjuk sebagai direktur urusan hukum bagi United States Anti-Doping Agency (USADA). Dia sebelumnya bekerja di klinik hukum olahraga VUSL dan tahun menjadi anggota tim klinik hukum di Olimpiade Musim Dingin tahun 2006 di Turin, Italia. Dalam olimpiade musim dingin di Turin, tim klinik hukum VUSL menyediakan jasa hukum gratis kepada para atlet yang bertanding.

Di bawah ini adalah kasus terakhir yang mendapat liputan luas dari media, pada waktu LaTasha Jenkins (atlit atletik nasional Amerika) memenangkan kasusnya terhadap USADA.

Kesimpulan:

Sesudah membandingkan apa yang dilakukan VUSL dan Ateneo de Manila, pada dasarnya tidak memiliki perbedaan dalam pelibatan para mahasiswa. Hal ini juga sama dengan konsep UPBH berdasarkan M.o.U KPT Jateng dan Rektor UKSW tahun 1988 pada waktu lalu.

Yang membedakan hanyalah pada ketersediaan fasilitas di Amerika Serikat yang lebih lengkap (di VUSL, klinik hukum memiliki gedung dua lantai khusus yang terpisah dari gedung fakultas hukum) dengan pemanfaatan multimedia yang lebih kuat dan fasilitas perpustakaan hukum (dengan sistem LexisNexis) yang kuat.

Di Ateneo de Manilia, kantor bantuan hukum berada dalam satu gedung dengan gedung fakultas hukum dan master bisnis (4 lantai) yang terpisah dari universitas induk. Didukung dengan perpustakaan hukum besar yang dikelola oleh tenaga pustakawan khusus, tetapi perpustakaan ini masih tergabung dengan perpustakaan jurusan master bisnis.

Rekomendasi:

– Melanjutkan kerjasama dengan pengadilan tinggi Jawa Tengah mengenai penanganan bantuan hukum oleh UPBH (M.o.U KPT Jateng dan Rektor UKSW tahun 1988).

– Pelibatan mahasiswa senior dalam pelayanan hukum di UPBH.

– Promosi UPBH melalui jalur “non-iklan” yaitu pemberitaan di media massa.

– Memberikan perhatian kepada kasus-kasus yang memiliki dampak publik.

– Spesialisasi bidang-bidang pelayanan di UPBH menurut bidang kekhususan para dosen pengacara.

Disampaikan oleh Theofransus Litaay, SH. LLM kepada Setyo Pamungkas (via email) dalam rangka memberikan gambaran pelaksanaan CLED di FH UKSW

Advertisements
Categories: CLED
  1. Theofransus Litaay
    May 28, 2008 at 3:33 am

    Sebagai tambahan informasi:
    Di VUSL, mahasiswa wajib melakukan kerja praktek pro-bono selamat 20 jam sebelum lulus. Mereka bisa melakukannya melalui kegiatan Klinik Hukum, maupun kegiatan praktek hukum lain di luar klinik, yang penting berlangsung secara pro-bono (sebagai pelayanan, tidak dibayar).
    Menurut salah satu profesor di VUSL, dalam kenyataannya mahasiswa kemudian bekerja sampai lebih dari 100 jam karena mereka sangat menikmati pengalaman-pengalaman tersebut. Selain itu pengalaman ini sangat membantu mereka untuk menguasai dunia praktek hukum sebelum mereka lulus nantinya.
    Katanya lagi, VUSL adalah sekolah hukum pertama yang mengenakan kewajiban 20 jam tersebut.

  2. May 28, 2008 at 5:26 pm

    wah…
    sepertinya saya sangat tertarik dengan keberadaan klinik hukum di sana…sungguh sangat bangga apabila kita di FH UKSW bisa mengadopsi itu…

    btw, kalaupun dengan mewajibkan 20 jam kerja seperti itu, apakah tidak membuat mahasiswa merasa capek dan tidak konsen dengan matkulnya?

    apakah perhatian dari dosen/staff pengajar cukup membantu?
    bagaimana dengan pola belajar mahasiswa di sana (secara umum), apakah berpangaruh pada pergaulan antar mahasiswa?
    adakah sikap2 ekslusivisme?

    thx

  3. Charles Hadi Sebayang
    June 2, 2008 at 5:38 pm

    saya sangat setuju, dengan ide ini, karena sangat bermanfaat bagi mahasiswa. kegiatan ini dapat menambah pengalaman mahasiswa dalam praktek beracara dipengadilan. selama ini mahasiswa hanya memperoleh pelajaran teori saja, sementara teori yang kita peroleh dibangku kuliah sangat berbeda di dunia praktek.
    kalau bisa kegiatan seperti ini diterapkan di FH UKSW, karena mahasiswa Di FH UKSW hanya memperoleh pelajaran teori saja, sementara kegiatan praktek langsung tidak ada.paling hanya mengikuti kegiatan moot court itu pun tidak sepenuhnya didukung oleh Fakultas dengan mengirim tim mengikuti pertandingan peradilan semu.
    kalau bisa kegiatan peradilan semu di kombinasikan dengan Klinik hukum (melibatkan mahasiswa senior di UPBH).
    semoga saran saya bisa diperhatikan Pimpina Fakultas Hukum UKSW.

    VIVA UISTITIA

  4. A.M
    September 27, 2009 at 7:57 pm

    ayo…..lakukan..!!!!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: