Home > Artikel, Pendidikan Hukum > Realita Pendidikan Hukum Konservatif

Realita Pendidikan Hukum Konservatif

September 15, 2008 Leave a comment Go to comments

“Education makes man a right thinker and a correct decision maker. It achieves this by bringing him knowledge from the external word, teaching him reason, and acquainting him with past history, so that he may be a better judge of the present….”(Maulana Wahidduddin Khan)

Pendidikan merupakan sarana strategis dalam usaha manusia mencapai tahap pembebasan dari segala belenggu kebodohan. Pendidikan dapat diibaratkan sebagai meditasi yang mendorong manusia berubah dari ulat menajdi kupu-kupu yang cantik. Akan tetapi, sayangnya di negeri ini sistem pendidikan yang diciptakan terkadang menjadi sarana pembodohan. Anak-anak negeri ini dipaksa menerima pendidikan dengan tekanan dan doktrin-doktrin paksaan. Sarana pencerahan telah berubah menjadi sarana pembelengguan. Melalui sistem UAN, pembelajaran satu arah, doktrin guru yang selalu benar, guru adalah orang suci, menghasilkan lembaga sekolah yang feodal. Tentu saja dengan sistem feodal tersebut bibit-bibit yang dihasilkan adalah manusia-manusia penerus warisan penjajah yang bermental feodal. Parahnya merekalah yang menduduki posisi-posisi penting dinegeri ini. Tidaklah mengherankan bila negeri yang mempunyai sumber daya alam strategis menjadi negeri miskin tukang ngutang.

Hukum yang seharusnya menjadi ujung tombak eksistensi tegaknya keadilan di negeri ini pun mempunyai masalah yang tidak jauh berbeda. Sebagai institusi pemberi jaminan atas keadilan, hukum sudah hilang daya tariknya dalam alam kesadaran manusia Indonesia saat ini. Paradigma hukum atau cara pandang yang selama ini mendasari praktik jurisprudence kita yaitu paradigma positivisme yang menjadi ”kaca mata” kita dalam membaca hukum barangkali sudah kehilangan relevansinya dalam menjawab masalah-masalah hukum saat ini. Akibatnya kita memberikan jawaban dan solusi yang keliru pula (legalist fallacy). Tetapi hampir tidak ada ahli hukum Indonesia yang berusaha memeriksa dan mengkritiknya, seakan-akan cara pandang yang dikembangkan oleh kaum yuris positivis itu sudah benar dengan sendirinya dan memang sudah tertanam sejak masa kolonial.

Pendidikan hukum di negeri ini masih jauh dari konsep ideal. Hal tersebut dibuktikan, masih banyaknya ditemui pendidikan hukum di Universitas di Indonesia yang masih bermasalah. Feodalisme masih merekat erat dengan pendidikan hukum di negeri ini. Di ruang kuliah masih ditemukan dosen yang „kebal“ kritik dan menganggap bahwa sumber kebenaran adalah dari dosen. Terkadang keadaan ini diperparah dengan mahasiswa yang hanya bisa setuju dan tidak kritis yang malah menganggap dosen seperti dewa. Salah satu kasus nyata yang terjadi adalah adanya guru sebuah SMA di Jakarta lulusan sebuah perguruan tunggi swata yang mengingatkan bahwa dosen nanti yang mereka temui sewaktu kuliah seharusnya dianggap seperti dewa yang tidak boleh dikritik karena dia yang akan menentukan nilai. Kungkungan tirani nilai tersebut pun sebenarnya fenomena masih dapat ditemui pada kebanyakan mahasiswa hampir di semua Perguruan Tinggi di negeri ini dan paham tersebut parahnya ditularkan ke generasi selanjutnya.

Masalah transfer pengetahuan dan kurikulum masih menjadi masalah. Ini dibuktikan, masih terdapatnya dosen-dosen konservatif yang menganggap kebenaran hanya berasal dari satu atau dua buku yang dibacanya ekstrimnya harus sesuai titik komanya dengan buku tersebut. Dengan kata lain menghilangkan perbedaan pendapat mahasisiwa yang mempunyai pendapat berbeda dengan dasar argumen yang kuat disertai pendapat ahli. Hasilnya, esensi kuliah pun semakin hilang maknanya. Mahasiswa hanya menjadikan rutinitas untuk memenuhi minimal absen sebagai syarat mengikuti ujian. Perdebatan di kelas yang dapat memancing kekritisan terhenti dan digantikan kekakuan mencatat segala pernyataan dosen dengan sifat konsevatif teks book.

Kesalahan sistem tersebut sebenarnya merupakan salah satu segi dari penindasan. Menurut Poulo Freire, paling tidak ada dua tipe orang tertindas. Pertama, mereka mengalami alienasi dari diri dan lingkungannya. Mereka tidak bisa menjadi subjek otonom, tetapi hanya mampu mengimitasi orang lain. Kedua, mereka mengalami self-depreciation, merasa bodoh tidak mengetahui apa-apa. Kesalahan ini terjadi di Indonesia. Sistem dean sumber daya pendidik yang ada termasuk di pendidikan hukum masih ditemukan yang membuat mahasiswa tidak dapat menggali kekritiasannya dan potensinya. Tidaklah mengherankan, lulusan yang dihasilkan selama ini tidak dapat berbuat banyak dalam progersivitas bangsa. Lulusan fakultas hukum yang tidak mempunyai idealisme, egois, merasa benar sendiri, dan feodal masih banyak ditemukan di negeri ini. Hasilnya dapat terlihat pada pejabat-pejabat hukum di negeri ini. Ketidakmauan hadirnya Ketua (Makamah Agung) untuk menjadi saksi di pengadilan dengan alasan jabatannya sebagai Ketua MA merupakan tanda masih mengakarnya gaya-gaya feodalisme di aparat penegak hukum di negeri ini. Bukanlah suatu hal yang mengherankan, dengan gaya pendidikan semacam itu korupsi dan budaya „asal bapak senang“ belum dapat dihilangkan di negeri ini.

Parahnya lagi, pendidikan hukum yang mengajarkan pada pendekatan etik kritis tidak ditanamkan secara baik. Hal tersebut menjadikan genersi hukum positivist yang tidak melihat faktor dan sebab lain selain kesesusaian pada teks undang-undang. Hukuman lebih berat pada seorang maling ayam yang terpaksa mencuri karena terkena PHK daripada seorang koruptor yang membuat beribu rakyat kelaparan merupakan contoh yang cukup membuktikan ketidakadilan penegakan hukum generasi positivist di negeri ini. Nilai tersebut ditanamkan melalui sistem pembelajaran yang konservatif. Selain itu, situasi fakultas-fakultas hukum di negeri ini yang memisahkan para calon penegak hukum dengan kondisi rill masyarakat miskin di negeri ini memperparah keadaan. Mahasisiwa fakultas hukum didudukan seakan-akan berada di negeri awang-awang. Pelarangan masyarakat umum mengakses perpustakaan sampai pedagang kecil yang dilarang berjualan di wilayah FH merupakan bukti nyata adanya pemisahan tersebut. Alasam yang diungkapkan pun tidak jauh-jauh dari argumen demi keindahan fakultas hukum. Padahal, menurut Ali Syariati keindahan di dunia banyak yang dibangun dengan penindasan.

CLS dan Perenialisme sebuah tawaran solusi

Proses pemabangunan pendidikan hukum yang ideal di negeri ini sebenarnya bukanlah suatu utopia bila ada keinginan yang serius dari pengambil kebiajakan. Studi tentang adanya pendidikan hukum kritis atau populernya disebut Critical Legal Studies (CLS) merupakan salah satu solusi untuk membangkitkan pendidikan hukum di negeri ini. Melalui CLS, pembelajaran hukum di buat agar kritis terhadap mahzab positivist yang jadi mainstream saat ini. Selain itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya melalui pendekatan Positivist melainkan turut pula ditekankan pendekatan sosiologis. Melalui budaya kritik yang akan menghasilkan suasana dialektika yang sehat sifat-sifat feodalisme pada sistem maupun pendidik akan terkikis.

Perennialisme pendidikan hukum merupakan solusi lain menciptakan sebuah konsep pendidikan hukum yang ideal. Menurut Huston Smith, Perenialisme berangkat dari nilai-nilai kearifan sebagai kritik atas sains dan modernitas dengan berpegang teguh pada „dimensi agung“ sebagai upaya menyempurnakan identitasnya sebagi manusia. Melalui perenialisme menurut Akhmad Efendi kebutuhan etika akan terpenuhi. Pendidikan hukum yang selama ini dipandang menyampingkan moral dan seakan-akan pendidikan hanya untuk menghasilkan pekerja-pekerja untuk memenuhi pasar akan terjawab. Dengan kata lain kritik bahwa fakultas hukum saat ini hanya dapat melahirkan pengacara-pengacara artis dan pekerja-pekerja perusahaan akan terjawab. Akan tetapi, semua kembali pada kemauan untuk mewujudkan berbagai konsep karena wacana tanpa realisasi, solusi tanpa aplikasi hanya ibarat „motor tanpa bensin“.

Oleh. Ahlul Badrito Resha (Kepala Departemen Kajian Strategis Dewan Mahasiswa Fakultas Hukum UGM)

dikutip dari situs pribadi Penulis

Advertisements
Categories: Artikel, Pendidikan Hukum
  1. November 11, 2009 at 2:15 am

    hehehe..tulisan ku dah lama banget nih..
    moga bermanfaat ya..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: